Divonis Mati, Pengacara: Ferdy Sambo Siap demi Risiko Tertak ternilai

Divonis Mati, Pengacara: Ferdy Sambo Siap demi Risiko Tertak ternilai Divonis Mati, Pengacara: Ferdy Sambo Siap demi Risiko Tertak ternilai

Pengacara keluarga Ferdy Sambo, Arman Hanis mengatakan bahwa kliennya yang mendapat vonis aub mengenai majelis hakim hadapan dalam kasus pembunuhan sengaja Brigadir Yosua Hutabarat topeng Brigadir J telah siap dengan risiko yang paling keras.

“Sambo sudah siap dengan risiko yang paling keras. Itu yang layak saya sampaikan. Karena dari persidangan, Ferdy Sambo agak sependapat dengan kami,” kata Arman Hanis kepada warkeriangann hadapan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (13/2) malam.

Meskipun demikian, Arman Hanis mengatakan, pihaknya tetap mempertimbangkan menjumpai mengambil upaya hukum lanjutan terkait dengan putusan melalui majelis hakim.

“Intinya, ekstra dalam tingkat terutama ini, kita hormati (putusan hakim). Tetap kita hormati lagi ada upaya hukum selanjutnya,” kaperbahasan.

Terkait atas pidana penjara 20 tahun Putri Candrawathi, Arman Hanis menyampaikan rasa kecewanya. Baginya, Putri Candrawathi merupakan seorang korban kedalam kasus ini. “Pastilah kecewa. Merasa, kok, Ibu Putri distingtifnya, korban, dihukum bagaikan itu,” ujarnya.

Sebelumnya, majelis hakim persidangan yang diketuai karena Hakim Wahyu Iman Santoso memvonis Ferdy Sambo beserta hukuman wafat. Sedangkan Putri Candrawathi divonis beserta hukuman penjara sewaktu sepanjang. 20 tahun.

Kedua terpidana ini dijatuhi hukuman akan lebih berat apabila dibandingkan demi tuntutan tim jaksa penuntut populer. Dalam sidang tuntutan, jaksa menuntut Ferdy Sambo kepada dihukum penjara seumur bernapas, meskipun Putri Candrawathi dituntut hukuman penjara delapan tahun.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa terbilang lewat pidana binasa,” ujar Hakim Ketua Wahyu Iman Santoso dalam sidang pembacaan putusan Ferdy Sambo dekat Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (Jaksel), Jakarta, Senin.

Majelis hakim menilai tidak ada hal-hal nan meringankan bagi kedua terpidana ini. Mereka berdua dinyatakan terbukti secara sah bersama meyakinkan berkhilaf melanggar Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Khusus demi Ferdy Sambo, ia agak dinyatakan terbukti melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 UU Nomor 19/2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11/2008 tentang ITE juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.